
PDF Andalusia menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam ini menjadi momentum istimewa untuk memperbanyak ibadah, memperdalam ilmu, serta memperkuat kedekatan kepada Allah SWT. Dalam rangka memuliakan bulan yang penuh berkah ini, Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia menghentikan sementara seluruh kegiatan pembelajaran reguler santri selama satu bulan penuh dan menggantinya dengan program Ngaji Pasaran, tradisi pengajian intensif yang telah menjadi warisan pesantren sejak dahulu. Kegiatan ini dilaksanakan mulai 1 hingga 20 Ramadhan, di mana para santri mendalami berbagai kitab turats melalui metode bandongan, yakni para masyayikh membacakan dan menjelaskan isi kitab, sementara santri menyimak, memberi makna, dan mencatat penjelasan dengan penuh kesungguhan.
Ramadhan di Andalusia bukan sekadar bulan puasa dan tarawih, tetapi juga bulan menghidupkan ilmu dan memperkuat ibadah. Selain mengikuti ngaji pasaran yang berlangsung sejak pagi, siang, sore, hingga malam hari, para santri juga berupaya mengkhatamkan Al-Qur’an secara mandiri. Dengan jadwal yang padat dan suasana yang khusyuk, setiap waktu di bulan suci ini dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai ladang amal, penguatan spiritualitas, dan pendalaman keilmuan.
Di lingkungan pesantren, terdapat beberapa istilah yang populer untuk menyebut tradisi pengajian di bulan Ramadhan, seperti ngaji pasaran, pasanan, posonan, maupun ngaji kilatan. Meskipun berbeda penyebutan, seluruhnya merujuk pada satu tradisi yang sama, yaitu pengajian intensif kitab turats selama bulan suci Ramadhan.
Istilah pasaran, pasanan, atau posonan berasal dari kata “poso” atau “pasa” dalam bahasa Jawa yang berarti puasa. Tradisi ini telah mengakar kuat dalam budaya pesantren Nusantara sebagai bentuk penghidupan bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah sekaligus memperdalam ilmu agama.
Ngaji pasaran merupakan kegiatan mengkaji kitab kuning secara intensif dalam waktu satu bulan penuh. Biasanya dilaksanakan dengan metode bandongan, yaitu seorang kiai atau masyayikh membacakan dan menjelaskan isi kitab, sementara para santri menyimak dengan seksama, memberi makna gandul, serta mencatat penjelasan penting di sela-sela baris kitab.
Adapun ngaji kilatan adalah model pembacaan kitab dengan tempo yang relatif cepat, sehingga kitab dapat dikhatamkan dalam waktu singkat. Model ini biasanya diterapkan pada kitab-kitab tertentu dengan target khatam dalam hitungan hari atau bahkan sekali duduk.
Dalam pelaksanaannya, penyelenggara pesantren umumnya menargetkan khatam beberapa kitab selama satu bulan Ramadhan. Target ini bukan semata-mata kuantitas, tetapi juga menjadi latihan kesungguhan, kedisiplinan, dan ketahanan para santri dalam menuntut ilmu.
Momentum khataman memiliki nilai spiritual dan akademik yang tinggi. Setelah kitab dikhatamkan, para santri biasanya mendapatkan ijazah atau sanad keilmuan dari kiai yang membacakan kitab tersebut. Ijazah ini menjadi simbol tersambungnya mata rantai keilmuan dari guru kepada murid, hingga bersambung kepada para ulama terdahulu.
Lebih dari sekadar tradisi, ngaji pasaran menjadi momentum berharga bagi para santri untuk menyambung sanad keilmuan, menimba ilmu langsung dari para Kiai, Masyayikh, dan Ustadz, serta memperkuat kedekatan spiritual di bulan yang penuh keberkahan. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dan kitab-kitab telah dikhatamkan, biasanya kegiatan pondok diliburkan sebagai bentuk penghormatan atas selesainya agenda Ramadhan.
Dengan demikian, ngaji pasaran bukan hanya agenda tahunan, melainkan bagian dari identitas pesantren dalam menjaga warisan ulama dan menumbuhkan generasi yang alim, beradab, serta istiqamah dalam menuntut ilmu.


Pada Ngaji Posonan 1447 H kali ini, terdapat beberapa kitab yang dikaji sesuai jenjang dan tingkatan santri.
Kitab pertama adalah مختصر صحيح مسلم karya
الشيخ العلامة عبد العظيم بن عبد القوي بن عبد اللّٰه أبي محمد زكّي الدين المنذري.
Kajian ini diperuntukkan bagi Kelas Aliyah, PDF Ulya, Mutakhorrijin, Ma’had Aly, dan juga umum. Kitab ini dibacakan langsung oleh KH. Zuhrul Anam Hisyam di Aula Pusat setiap hari pada pukul 08.30–11.00 WIB, 14.00–16.30 WIB, dan 21.30–00.00 WIB. Kitab ini membahas ringkasan hadis-hadis sahih yang menjadi rujukan utama dalam memahami sunnah Rasulullah ﷺ.
Selain itu, terdapat pula kajian kitab yang dibacakan oleh KH. Zuhrul Anam Hisyam di Aula Pusat setiap hari setelah ba’da Ashar dan ba’da Tarawih. Pengajian ini diikuti oleh seluruh santri PDF Ulya, PDF Wustha, serta seluruh santri Andalusia Pusat. Majelis ini menjadi momen kebersamaan seluruh santri dalam satu forum ilmu selama bulan Ramadhan.
Kitab berikutnya adalah مائة مسألة ومسألة في الصيام وما يتعلق به karya
الشيخ الدكتور لبيب نجيب عبد اللّٰه. Kitab ini diperuntukkan bagi Kelas Isti’dad, 1 Tsanawy Putra, dan PDF Wustha 1 Putra. Dibacakan oleh para asatidz pada pukul 14.00–16.30 WIB. Isinya membahas berbagai persoalan fikih puasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya, sehingga sangat sesuai dikaji di bulan Ramadhan.
Selanjutnya, kitab الأربعون النووية في الأحاديث النبوية karya
الإمام محيي الدين أبي زكريا يحيى بن شرف النووي الشافعي dikaji untuk Kelas 2 dan 3 Tsanawy Putra, 1 Tsanawy, Isti’dad, serta PDF Wustho Putri. Kajian ini dibacakan oleh para asatidz pada pukul 08.00–11.30 WIB di kelas masing-masing. Kitab ini berisi hadis-hadis pilihan yang menjadi dasar penting dalam memahami ajaran Islam.
Kemudian kitab التربية والآداب الشرعية karya
الشيخ المرحوم عبد الرحمن افندي اسماعيل diperuntukkan bagi Kelas Isti’dad, 1, 2, dan 3 Tsanawy, 3 Tsanawy Isti’dad Putra, serta PDF Wustho 1 dan 2 Putra. Kitab ini dibacakan oleh para asatidz pada pukul 21.00 WIB hingga selesai, dengan fokus pada pendidikan akhlak dan adab santri.
Terakhir, untuk santri putri terdapat kajian kitab رسالة الحيض karya
الشيخ محمد أرداني أحمد الحاج. Kitab ini diperuntukkan bagi 2 Tsanawy Putri dan 3 Tsanawy Isti’dad Putri. Kajian dilaksanakan di Aula Putri pada pukul 08.30–11.30 WIB serta 14.00 WIB hingga selesai, dan dibacakan langsung oleh Ibu Nyai Rodliyah Ghorro Maimun Zubair. Pembahasannya berfokus pada fikih perempuan agar para santri putri memiliki pemahaman yang benar dalam menjalankan ibadah.
ebagai penutup, Ngaji Posonan 1447 H ini diharapkan menjadi sarana memperdalam ilmu, memperkuat adab, serta menambah keberkahan di bulan Ramadhan. Tradisi ini bukan hanya kegiatan tahunan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga sanad keilmuan dan melestarikan warisan para ulama. Semoga seluruh rangkaian pengajian ini membawa manfaat, keberkahan, dan melahirkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi kepada agama dan masyarakat.
Oleh : Ahmad Mahbub ‘Atoillah

PDF WUSTHA & ULYA ANDALUSIA
Pendidikan Diniyyah Formal Wustha Dan Ulya Yang Terletak di Jln. Ditowongso, Dsn. Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 53172
Didirikan Oleh Syaikuna KH. Zuhrul Anam Hisyam
